Etos Kerja
Australia? Italia?
oke. Jujur saja dua negara ini dianggap “looser” bagi negara barat. Tetapi setidaknya budaya dan etos kerja orang Australia dan Italy semestinya mudah di adaptasi di sini. Karena terus terang aja, etos kerja mereka termasuk santai. Sebut saja Australia yang memang negara agraris, dimana “menunggu” adalah kebiasaan. Sementara Italy, mereka punya “Siesta” dimana leyeh leyeh dan santai adalah ritual wajib.
Tapi tunggu dulu, Stoner, Doohan, Ian Thorpe, Holden, Australian Food Product, Ferarri, Lamborghini, Ducati, Aprilia, Rossi, Dari mana tuh? yah biasanya sih mereka kalo enggak dari Italy ya dari Australia. Tapi kenapa mereka bisa membuat sesuatu yang “luar biasa” ditengah budaya “nyantainya” mereka ? nah disini yang membedakan!
Mereka memang males, suka hura hura, jam kerjanya pun singkat! hanya saja mereka mampu fokus dan memiliki “Passion” yang luar biasa di saat melakukan pekerjaan. Apa saja! mereka memang paling haram untuk lembur, tapi beberapa jam kerja keras ala spartan, cukup buat mereka untuk menyisakan waktu lainya untuk leyeh leyeh … apa enggak enak tuh ?.
Kerja sebentar tapi spartan, lalu dapat duit kemudian bisa leyeh leyeh … tapi gilanya masih banyak orang di indonesia yang bilang mereka bekerja terlalu KERAS …
Jepang? … Ganbate!
Jerman? … Perfect is never enough ! …
Sekarang kita terbiasa dengan produk jepang, dan jerman. Jauh lebih terbiasa ketibang produk Australia dan Italia. Produk tersebut dikenal dengan kesempurnaanya, kwalitasnya dan inovasinya yang sempurna. Produk tersebut baik barang dan jasa, jelas karena filosofi mereka berbeda dengan Australia – Italia, yang dianggap terlalu SANTAI dan MALAS! bagi orang jepang atau jerman, sempurna itu masih tidak cukup! improvement, hard working, perfection, and cold blooded passion! itu yang mereka kerjakan.
Menerapkan etos kerja seperti ini di dunia bisnis ? huff, berat! karena percaya deh, jika anda enggak bisa mengikuti budaya Australia – Italy yang mirip dengan budaya lokal, gimana mau ngkutin etos kerja dua negara adidaya teknologi dan disiplin mereka! Susah!!!. Kita harus mengakui bahwa kita terbiasa mengeluh, rendah diri, minder, permisif, sampai rasa enggak enak berlebihan terhadap sisi yang harusnya di abaikan, sudah menjadi kebiasaan buruk kita.
Dapat kesuksesan sedikit langsung merasa hebat, malas malasan, foya foya. Andaikata mindset tersebut dirubah saja sedikit. Sedikit! Saja!... jadilah seperti orang Australia atau Italy, sama sama males, sama sama hoby etebelese … tapi fokus sedikit dan sebentar dalam pekerjaan, niscaya rejeki pun datang.
Komentar
Posting Komentar