MAKALAH SOSIO DAN ETIKA KOMPUTER
SOSIO DAN ETIKA KOMPUTER
“Makalah
Permasalahan Pada Sosio dan Etika Komputer”
Disusun Oleh:
· Riki krismawan (2116R1248)
Dosen
: Septia Luthfi M.Kom
|
STIMIK HIMSYA SEMARANG
PRODI : TEKNIK
INFORMATIKA
Kata Pengantar
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini yang berjudul “Makalah Permasalahan Pada Sosio dan Etika
Komputer” dapat
tersusun hingga selesai . Tidak lupa saya juga mengucapkan banyak terimakasih
atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya. Saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya. Saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semarang, 19 February 2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu prioritas sehubungan dengan
persaingan antar sumber daya
manusia. Sumber daya manusia yang unggul
dan berkualitas dapat berimbas pada peningkatan pendidikan suatu negara yang
kemudian memberikan konstribusi pada peningkatan tarap hidup bangsa.[1][1]
Dalam dunia pendidikan penggunaan
komputer telah menjadi kebutuhan. Namun,
meningkatnya penggunaan komputer menjadi perhatian yang semakin besar, terutama
pengaruhnya terhadap etika dan sosial di masyarakat pengguna. Di satu sisi,
perkembangan teknologi komputer sebagai sarana informasi memberikan banyak
keuntungan. Salah satu manfaatnya adalah bahwa informasi dapat dengan segera
diperoleh dan pengambilan keputusan dapat dengan cepat dilakukan secara lebih
akurat, tepat dan berkualitas.
Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi, khususnya komputer
menimbulkan masalah baru. Secara umum, perkembangan teknologi informasi ini
mengganggu hak privasi individu. Bahwa banyak sekarang penggunaan komputer
sudah di luar etika penggunaannya, misalnya: dengan pemanfaatan teknologi
komputer, dengan mudah seseorang dapat mengakses data dan informasi dengan cara
yang tidak sah. Belum lagi ada sebagian orang yang memanfaatkan komputer dan
internet untuk mengganggu orang lain dengan tujuan sekedar untuk kesenangan serta
hobinya. Ada pula yang memanfaatkan teknologi
komputer ini untuk melakukan tindakan kriminal.
Bukan suatu hal yang
baru bila kita mendengar bahwa dengan kemajuan teknologi ini, maka semakin
meningkat kejahatan dengan memanfaatkan teknologi informasi ini. Kejahatan yang
dimaksud tersebut adalah salah satunya merupakan bentuk etika yang tidak baik
seperti kriminalitas, ataupun penipuan. Pada era modern ini sudah banyak bukti
yang ditemukan dari pengaruh perkembangan teknologi tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar
belakang masalah di atas, maka pokok permasalahan dalam makalah ini adalah
bagaimana dampak etika dan sosial pemanfaatan sistem informasi manajemen dalam
pendidikan? Untuk mengkaji pokok permasalahan
tersebut, penulis merumuskan beberapa
sub masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
perilaku moral dan konsep etika?
2.
Bagaimana
perlunya budaya etika?
3.
Bagaimana
memahami timbulnya permasalahan etika dalam teknologi informasi?
4. Bagaimana etika dalam suatu masyarakat
informasi?
5. Bagaimana hak sosial dan komputer?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perilaku
Moral dan Konsep Etika.
Dalam suatu masyarakat yang memiliki
kesadaran sosial, tentunya setiap orang diharapkan dapat melakukan apa
yang benar secara moral, etis dan mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.
Moral adalah tradisi kepercayaan mengenai perilaku benar dan salah. Moral dipelajari
setiap orang sejak kecil sewaktu yang bersangkutan masih anak-anak.
Sejak kecil, anak-anak sudah diperkenalkan perilaku moral untuk
membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak, atau
mana tindakan yang terpuji dan tercela. Sebagai contoh: anak-anak
diminta berlaku sopan terhadap orang tua, menghormati guru, tidak menyakiti teman-temannya.
Pada saat anak-anak telah
dewasa,mereka akan mempelajari berbagai peraturan yang berlaku di
masyarakat dan diharapkan untuk menaatinya. Peraturan-peraturan tingkah
laku ini adalah perilaku moral yang diharapkan dimiliki setiap individu.
Walau berbagai masyarakat tidak mengikuti satu set moral yang
sama, terdapat keseragaman kuat yang mendasar yaitu “Melakukan apa yang
benar secara moral” merupakan landasan perilaku sosial kita.
Tindakan
kita juga diarahkan oleh etika (ethics). Kata ethics berakar
dari bahasa Yunani ethos, yang berarti karakter. Etika adalah satu
set kepercayaan, standar, atau pemikiran yang mengisi suatu
individu, kelompok atau masyarakat. Semua individu bertanggung jawab
pada masyarakat atas perilaku mereka.[2][2]
Masyarakat dapat berupa suatu kota, negara, atau profesi. Tidak seperti moral, etika dapat sangat
berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Kita melihat perbedaan
ini di bidang komputer dalam bentuk perangkat lunak bajakan- perangkat
lunak yang digandakan secara ilegal lalu digunakan atau dijual.
Etika dapat dipakai dalam arti nilai
yang menjadi pegangan seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya atau
lazim dikenal dengan istilah kode etik misalnya kode etik guru, kode etik
jurnalistik dan lain sebagainya.[3][3]
Kata etika diidentikkan dengan
kepribadian yang berarti sifat hakiki seseorang yang tercermin pada sikap orang
dan perbuatannya, yang membedakan dirinya dengan orang lain.
Adapun definisi etika komputer
adalah sikap atau perilaku seseorang sebagai individu yang bekerja atau
menggunakan komputer sesuai standar moral dan aturan yang ditetapkan dalam
suatu organisasi.[4][4]
Dari definisi etika komputer di atas
disimpulkan bahwa semua pengguna komputer baik dalam keadaan bekerja atau
hiburan harus memiliki aturan-aturan
B.
Perlunya
Budaya Etika.
Kebutuhan akan budaya etik sangat
dibutuhkan dalam pola hubungan antara pemimpin dengan lembaga pendidikannya. Hal ini merupakan dasar dalam menentukan
budaya etik. Jika dalam suatu
lembaga pendidikan akan mewujudkan etika, terlebih dahulu pimpinan
lembaga pendidikan harus melaksankan etika baik melalui perkataan maupun
perbuatan karena pimmpinan lembaga pendidikan merupakan contoh bagi
bawahannya.
Dalam menanamkan budaya etika pada
lembaga pendidikan, ada tiga bentuk implementasi yang harus diperhatikan
berikut ini:
1. Membentuk paham etika lembaga
pendidikan
2. Program etika merupakan sistem yang
merancang aktifitas ganda untuk memfasilitasi pimpinan dan bawahan yang
terlibat dalam lembaga pendidikan untuk memahami orientasi pendidikan tersebut.
3. Membangun kode etik lembaga
pendidikan tersendiri atau beradaptasi dengan kode etik yang dibuat oleh
lembaga profesi di bidang pendidikan.[5][5]
Tugas manajemen puncak adalah
memastikan bahwa konsep etikanya menyebar di seluruh organisasi, melalui
semua tingkatan dan menyentuh semua pegawai. Para eksekutif mencapai
penerapan ini melalui suatu metode tiga lapis, yaitu dalam bentuk pernyataan
tekad (komitmen), program-program etika, dan kode etik khusus pada setiap
instansi.
Komitmen adalah pernyataan ringkas
mengenai nilai-nilai yang ditegakan oleh pimpinan instansi. Tujuan
komitmen ini adalah menginformasikan orang-orang dan organisasi-organisasi
baik di dalam maupun di luar instansi mengenai nilai-nilai etika yang
diberlakukan.
Program etika adalah suatu sistem
yang terdiri atas berbagai aktivitas yang dirancang untuk mengarahkan
pegawai dalam melaksanakan pernyataan komitmen. Suatu aktivitas yang umum
adalah pertemuan orientasi yang dilaksanakan bagi pegawai baru. Selama
pertemuan ini, subyek etika mendapat cukup perhatian. Contoh lain
dari program etika adalah audit etika. Dalam audit etika, sesorang auditor
internal mengadakan pertemuan dengan seorang manajer selama beberapa jam
untuk mempelajari bagaimana unit manajer tersebut melaksanakan pernyataan
komitmen.
Kode etik khusus instansi, Banyak
instansi telah merancang kode etika mereka sendiri. Kadang-kadang kode ini
diadaptasi dari kode etik dari organisasi sejenis. Hubungan antara pimpinan dengan instansi
merupakan dasar budaya etika. Jika instansi harus etis, maka manajemen puncak
harus etis dalam semua tindakan dan kata-katanya, sehingga bissa menjadi
teladan.
Guru sebagai pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai dan mengevaluasi peserta didik perlu memiliki etika kepribadian atau
kode etik antara lain:
1. Ilmu.
Ijazah bukan semata-mata secarik
kertas, tetapi suatu bukti bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan
dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan. Guru pun harus
mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar sebab semakin tinggi pendidikan
guru semakin baik pendidikan dan pada gilirannya semakin tinggi pula derajat
masyarakat.
2. Sehat jasmani.
Kesehatan
jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat untuk menjadi guru. Guru yang berpenyakit menular, misalnya
sangat membahayakan kesehatan peserta didik.
3. Berkelakuan baik
Budi pekerti sangat penting dalam
pendidikan watak peserta didik. Guru harus menjadi teladan, karena peserta
didik suka meniru. Di antara tujuan
pendidikan adalah membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi peserta didik
dan ini hanya bisa dilakukan jika pribadi guru berakhlak mulia.[6][6]
Di Indonesia untuk menjadi guru
harus memenuhi beberapa persyaratan , yakni bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berijazah, professional, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian luhur,
bertanggung jawabdan berjiwa nasionalis.
Oleh karena itu budaya etika perlu
diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan, tak terkecuali dalam bidang
pendidikan. Khusus dalam bidang
pendidikan kode etik berfungsi untuk mengontrol perilaku guru sehingga tetap
berada pada koridor aturan-aturan yang
telah ditetapkan.
C.
Memahami
Timbulnya Permasalahan Etika dalam Teknologi Informasi.
Banyak permasalahan-permasalahan yang timbul
dari dampak etika dalam penggunaan teknologi informasi, sebagai contoh dapat
kita lihat dari perlindungan atas hak individu di internet dan membangun hak
informasi merupakan sebagian dari permasalahan etika dan sosial dengan
penggunaan sistem informasi yang berkembang luas. Permasalahan etika dan sosial
lainnya, di antaranya adalah: perlindungan hak kepemilikan intelektual,
membangun akuntabilitas sebagai dampak pemanfaatan sistem informasi, menetapkan
standar untuk pengamanan kualitas sistem informasi yang mampu melindungi
keselamatan individu dan masyarakat, mempertahankan nilai yang dipertimbangkan
sangat penting untuk kualitas hidup di dalam suatu masyarakat informasi.
Dari berbagai permasalahan etika dan sosial
yang berkembang berkaitan dengan pemanfaatan sistem informasi, perubahan
teknologi yang cepat mengandung arti bahwa pilihan yang dihadapi setiap
individu juga berubah dengan cepat begitu pula keseimbangan antara risiko dan
hasil serta kekhawatiran kemungkinan terjadinya tindakan yang tidak benar.
Perlindungan atas hak privasi individu telah menjadi permasalahan etika yang
serius dewasa ini.
Di samping itu, penting bagi manajemen untuk
melakukan analisis mengenai dampak etika dan sosial dari perubahan teknologi.
Mungkin tidak ada jawaban yang selalu tepat untuk bagaimana seharusnya
perilaku, tetapi paling tidak ada perhatian atau manajemen tahu mengenai
risiko-risiko moral dari teknologi baru.
Manajemen bertanggung
jawab untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menjelaskan kebijakan etika
organisasi. Kebijakan etika organisasi berkaitan dengan sistem informasi
meliputi, antara lain: privasi, kepemilikan, akuntabilitas, kualitas sistem,
dan kualitas hidupnya. Hal yang menjadi tantangan adalah bagaimana memberikan
program pendidikan atau pelatihan, termasuk penerapan permasalahan kebijakan
etika yang dibutuhkan.
Kasus pertama kejahatan komputer
terjadi pada tahun 1966, saat programer untuk suatu bank membuat suatu
tambahan di program sehingga program tersebut tidak dapat menunjukan bahwa
pengambilan dari rekeningnya telah melampaui saldo. Ia dapat terus menulis
cek walau tidak ada lagi uang di rekeningnya. Penipuan ini terus
berlangsung hingga komputer tersebut rusak, dan pemrosesan secara manual
mengungkapkan saldo yang telah minus. Programer tersebut tidak dituntut
melakukan kejahatan komputer, karena peraturan hukumnya belum ada.
sebaliknya, ia dituntut membuat entry palsu di catatan bank.[7][7] Kita dapat melihat bahwa
penggunaan komputer dalam bisnis diarahkan oleh nilai-nilai moral dan
etika dari para manajer, spesialis informasi dan pemakai, dan juga hukum
yang berlaku. Hukum paling mudah diinterpretasikan karena berbentuk
tertulis. Di pihak lain, etika tidak didefinisikan secara persis dan tidak
disepakati oleh semua anggota masyarakat. Bidang yang sukar dari etika
komputer inilah yang sedang memperoleh banyak perhatian.
D.
Etika
dalam Suatu Masyarakat Informasi.
Etika berhubungan dengan
kebebasan setiap individu untuk memilih. Etika juga adalah suatu hal tentang
pilihan setiap individu, yaitu pada saat dihadapkan pada berbagai alternatif
tindakan, apa pilihan moral yang benar? Apa yang merupakan sosok utama dari pilihan
yang etis? Pilihan etika merupakan keputusan-keputusan yang dibuat setiap
individu yang bertanggungjawab atas konsekuensi-konsekuensi dari
tindakan-tindakan mereka.
Ada beberapa konsep
dasar yang berhubungan dengan etika dan
tindakan-tindakan yang dipilih sebagai keputusan yang dibuat setiap
individu. Konsep-konsep dasar tersebut adalah:
1. Tanggungjawab;
menerima potensi biaya, tugas, dan kewajiban untuk keputusan-keputusan yang
diambilnya.
2. Akuntabilitas; mekanisme untuk menilai
tanggungjawab untuk keputusan yang dibuat dan tindakan yang diambil.
3.
Kewajiban; adanya peraturan yang memungkinkan
setiap individu untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh
pihak, sistem, atau organisasi lain.
4. Proses;
suatu proses di mana peraturan dikenal dan dipahami dan terdapatnya kemampuan
untuk menarik otoritas yang lebih tinggi untuk memastikan bahwa peraturan
diterapkan dengan benar.
Etika komputer didefinisikan sebagai
analisis mengenai sifat dan dampak sosial teknologi komputer, serta formulasi
dan justifikasi kebijakan untuk menggunakan teknologi tersebut secara etis.
Karena itu, etika komputer terdiri dari dua aktivitas utama dan pimpinan
organisasi yang paling bertanggungjawab atas aktivitas tersebut. Kedua
aktivitas tersebut adalah:
1. Waspada dan sadar bagaimana komputer
mempengaruhi masyarakat
2. Harus berbuat sesuatu dengan
memformulasikan kebijakan-kebijakan yang memastikan bahwa teknologi tersebut
digunakan secara tepat.
Namun ada satu hal yang sangat
penting, yaitu bukan hanya pimpinan puncak sendiri yang bertanggungjawab atas
etika komputer. Para pimpinan dilapis kedua dan ketiga lainnya juga
bertanggungajawab. Keterlibatan seluruh organisasi merupakan keharusan mutlak dalam
dunia end-user computing saat ini. Semua pimpinan di semua lapisan
bertanggungjawab atas penggunaan komputer yang etis di area mereka. Selain itu,
setiap pegawai bertanggungjawab juga atas aktivitas mereka yang berhubungan
dengan komputer.
Ada tiga alasan utama minat
masyarakat yang tinggi pada etika komputer, yaitu:
1. Kelenturan
logika (logical malleability) adalah kemampuan memprogram komputer untuk melakukan apapun
yang diinginkan. Komputer bekerja tepat dan sesuai seperti yang diinstruksikan
oleh pembuat program. Kelenturan logika inilah yang bisa menakutkan masyarakat,
tetapi pada dasarnya masyarakat tidak takut terhadap komputer. Sebaliknya
masyarakat bisa takut terhadap orang-orang yang memberi perintah di belakang
komputer.
2. Faktor
transformasi. Alasan kepedulian pada etika
komputer ini didasarkan pada fakta bahwa komputer dapat mengubah secara drastis
cara melakukan sesuatu. Sebagai contoh yang baik adalah surat elektronik (e-mail)
yang tidak hanya memberikan cara berkomunikasi yang lain, tetapi memberikan
cara berkomunikasi yang sama sekali baru. Transformasi seruapa dapat dilihat
cara mengadakan rapat. Jika pada masa lalu rapat harus dilakukan dengan
berkumpul secara fisik, maka saat ini dapat dilakukan dalam bentuk konferensi video
(video conference).
3. Faktor tak
kasat mata (invisibility factors). Alasan lain minat masyarakat pada
etika komputer adalah karena semua operasi internal komputer tersembunyi dari
penglihatan. Operasi internal yang tidak nampak ini membuka peluang pada
nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat (perintah-perintah yang programer
kodekan menjadi program yang mungkin dapat atau tidak menghasilkan pemrosesan
yang diinginkan pemakai), perhitungan rumit yang tidak terlihat (bentuk
program-program yang sedemikian rumit sehingga tidak dimengerti oleh pemakai),
dan penyalahgunaan yang tidak terlihat (tindakan yang sengaja melanggar batasan
hukum dan etika).[8][8]
Oleh karena itu masyarakat sangat
memperhatikan etika komputer, masyarakat mengharapkan bisnis diarahkan oleh
etika komputer. Dengan demikian dapat meredakan kekhawatiran tersebut. Etika
adalah kepercayaan tentang hal yang benar dan salah atau yang baik dan yang
tidak. Etika dalam sistem informasi dibahas pertama kali oleh Richard Mason
(1986), yang mencakup PAPA,
yaitu :
1. Privasi.
2. Akurasi.
3. Properti.
Privasi menyangkut hak
individu untuk mempertahankan informasi
pribadi dari
pengaksesan oleh orang
lain yang memang tidak diberi izin untuk melakukannya. Contoh kasus:
1. Manajer pemasaran
mengamati e-mail bawahannya
2. Penjualan data akademis
Akurasi terhadap informasi merupakan faktor
yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem informasi. Ketidakakurasian informasi
dapat menimbulkan hal yang menggangu, merugikan, dan bahkan membahayakan.
Contoh kasus: Terhapusnya nomor keamanan sosial yang dialami oleh Edna
Rismeller (Alter, 2002, hal. 292) Akibatnya, kartu asuransinya tidak bisa
digunakan bahkan pemerintah menarik kembali cek pensiun sebesar $672 dari
rekening banknya.
Hak cipta adalah hak yang dijamin oleh kekuatan hukum yang
melarang penduplikasian kekayaan intelektual tanpa seizin pemegangnya. Hak
seperti ini mudah untuk didapatkan dan diberikan kepada pemegangnya selama masa
hidup penciptanya plus 70 tahun. Contoh : Paten merupakan bentuk perlindungan
terhadap kekayaan intelektual yang paling
sulit didapatkan karena hanya akan diberikan
pada penemuan-penemuan inovatif dan sangat
berguna. Hukum paten memberikan perlindungan
selama 20 tahun. Hukum
rahasia perdagangan melindungi kekayaan
intelektual melalui lisensi atau kontrak.
Pada lisensi perangkat
lunak, seseorang yang menandatangani kontrak menyetujui untuk tidak menyalin
perangkat lunak tersebut untuk diserahkan pada orang lain atau dijual.
Berkaitan dengan dengan kekayaan intelektual.
Fokus dari masalah akses adalah pada penyediaan akses untuk semua kalangan. Teknologi
informasi diharapkan malah tidak menjadi halangan dalam melakukan pengaksesan
terhadap informasi bagi kelompok orang tertentu, tetapi justru untuk mendukung
pengaksesan untuk semua pihak.
E.
Hak
Sosial dan Komputer.
Masyarakat memiliki hak-hak tertentu
berkaitan dengan penggunaan komputer. Komputer merupakan peralatan yang begitu
penuh daya sehingga tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Deborah Johnson, professor pada Rensselaer
Polytechnic Institute, yakin bahwa masyarakat memiliki hak atas akses komputer,
keahlian komputer, spesialis komputer dan pengambilan keputusan komputer.
1. Hak atas akses komputer.
Setiap orang tidak perlu memiliki
sebuah komputer, seperti juga tidak setiap orang memiliki mobil. Namun,
pemilikan atas akses komputer merupakan kunci mencapai hak-hak tertentu lain.
Misalnya akses ke komputer berarti kunci mendapatkan pendidikan yang baik.
2. Hak atas keahlian komputer.
Saat komputer mula-mula muncul, ada
ketakutan yang luas dari para pekerja bahwa komputer akan mengakibatkan
pemutusan hubungan kerja masal. Hal itu tidak terjadi. Kenyataannya, komputer
telah menciptakan pekerjaan lebih banyak daripada yang dihilangkannya.
Tidak semua pekerja menggunakan
komputer atau memerlukan pengetahuan komputer, tetapi banyak yang demikian.
Dalam mempersiapkan pelajar untuk bekerja di masyarakat modern, pendidik sering
menganggap pengetahuan tentang komputer sebagai suatu kebutuhan.
3.
Hak atas
spesialis komputer.
Adalah mustahil seseorang memperoleh
semua pengetahuan dan keahlian komputer yang diperlukan. Karena itu kita harus
memiliki akses ke para spesialis tersebut, seperti kita memiliki akses ke
dokter, pengacara, dan tukang ledeng.
4. Hak atas pengembalian keputusan
komputer.
Walau masyarakat tidak banyak berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan mengenai bagaimana komputer diterapkan, masyarakat
memiliki hak tersebut. Hal ini layak jika komputer dapat berdampak buruk bagi
masyarakat. Hak-hak ini dicerminkan dalam UU komputer yang telah mengatur
penggunaan komputer. Hak atas informasi. Klasifikasi hak asasi manusia dalam
era komputer yang paling luas dipublikasikan adalah PAPA yang dibuat Richard O.
Mason, seorang professor di Southern Methodist University, menciptakan akronim
PAPA untuk menggambarkan empat hak asasi masyarakat dalam hal informasi. PAPA
merupakan singkatan dari Privacy (privasi), accuracy (akurasi), property
(kepemilikan), dan accessibility (aksesbilitas).
a. Hak atas privasi.
Hakim Pengadilan Tinggi Louis
Branders dikenal karena mengakui “hak untuk dibiarkan menyendiri.” Mason
menganggap hak ini sedang terancam karena dua kekuatan. Yang satu adalah
meningkatnya kemampuan komputer untuk digunakan bagi pengintaian, dan yang lain
adalah meningkatnya nilai informasi dalam pengambilan Keputusan Contoh-contoh
diatas adalah contoh-contoh pengintaian yang tidak menggunakan komputer.
Masyarakat umum sadar bahwa komputer dapat digunakan untuk tujuan ini, namun
barangkali tidak sadar akan data pribadi mana yang dengan mudah dapat diakses.
Jika Anda tahu cara mencarinya, Anda dapat memperoleh informasi data pribadi
dan informasi keuangan apapun yang dimiliki oleh warga negara AS.
b. Hak atas akurasi.
Komputer dipercaya mampu mencapai
tingkat akurasi yang tidak dapat dicapai oleh sistem nonkomputer. Potensi ini
selalu ada, tetapi\ tidak selalu tercapai. Sebagian sistem berbasis komputer
mengandung kesalahan lebih banyak daripada yang dapat ditolerir sistem manual.
Dalam banyak kasus, kerusakan terbatas pada gangguan sementara, seperti saat
Anda harus memproses penagihan yang telah Anda bayar. Dalam kasus lain,
biayanya mungkin lebih besar.
c. Hak atas kepemilikan.
Di sini kita berbicara mengenai hak
milik intelektual, umumnya dalam bentuk program-program komputer. Kita sering
melihat para pemakai yang telah membeli hak untuk menggunakan perangkat lunak
jadi menggandakannya secara illegal, kadang-kadang untuk dijual kembali. Dalam
kasus lain, suatu penjual perangkat lunak mungkin meniru produk popular dari
penjual lain. Para penjual perangkat
lunak dapat menjaga hak milik intelektual mereka dari pencurian melalui hak
cipta, paten, dan perjanjian lisensi. Hingga tahun 1980-an, perangkat lunak
tidak dilindungi oleh UU hak cipta atau paten. Namun, sekarang keduannya dapat
digunakan untuk memberikan perlindungan. Paten memberikan perlindungan yang
sangat kuat di negara-negara yang menegakkannya, karena perlindungan hak cipta
menetapkan bahwa suatu tiruan (clone) tidak harus persis serupa dengan versi
orisinalnya.
Para penjual perangkat lunak mencoba menambal lubang-lubang dalam hukum melalui perjanjian lisensi yang diterima para pelanggan saat mereka menggunakan perangkat lunak tersebut. Pelanggaran perjanjian membuat pelanggan dapat dituntut di pengadilan.
Para penjual perangkat lunak mencoba menambal lubang-lubang dalam hukum melalui perjanjian lisensi yang diterima para pelanggan saat mereka menggunakan perangkat lunak tersebut. Pelanggaran perjanjian membuat pelanggan dapat dituntut di pengadilan.
d. Hak atas akses.
Sebelum adanya database komputer,
banyak informasi yang tersedia bagi masyarakat umum dalam bentuk dokumen
tercetak atau mikrofilm diperpustakaan. Informasi tersebut terdiri dari
beritaberita, hasil penelitian ilmiah, statistik pemerintah, dan lain-lain.
Sekarang, banyak dari informasi tersebut yang telah diubah menjadi database
komersial yang menjadikannya kurang dapat diakses masyarakat. Untuk memiliki
akses ke informasi tersebut, seseorang harus memiliki perangkat lunak dan
perangkat keras komputer yang diperlukan, dan membayar biaya akses. Dengan melihat fakta bahwa komputer dapat
mengakses data dari penyimpanan lebih cepat dan lebih mudah dari teknologi
lain, maka menjadi ironis bahwa hak untuk akses merupakan masalah etis jaman
modern ini.
Kontrak Sosial Jasa Informasi Mason
yakin bahwa untuk memecahkan permasalahan etika komputer, jasa informasi harus
masuk ke dalam suatu kontrak sosial yang memastikan bahwa komputer akan
digunakan untuk kebaikan sosial. Jasa informasi membuat kontrak tersebut dengan
individu dan kelompok yang menggunakan atau yang dipengaruhi oleh output
informasinya. Kontrak ini tidak tertulis tetapi tersirat dalam segala sesuatu
yang dilakukan jasa informasi. Kontrak
tersebut menyatakan bahwa:
• komputer tidak akan digunakan untuk sengaja mengganggu privasi seseorang
• setiap ukuran akan dibuat untuk memastikan akurasi pemprosesan komputer
• hak milik intelektual akan dilindungi
• komputer tidak akan digunakan untuk sengaja mengganggu privasi seseorang
• setiap ukuran akan dibuat untuk memastikan akurasi pemprosesan komputer
• hak milik intelektual akan dilindungi
• komputer akan dapat diakses
masyarakat sehingga anggota masyarakat terhindar dari ketidaktahuan informasi.[10][10]
Singkatnya, masyarakat jasa
informasi harus bertanggung jawab atas kontrak sosial yang timbul dari sistem
yang dirancang dan diterapkannya.
BAB III.
PENUTUP
Kesimpulan
1. Dalam suatu masyarakat yang memiliki
kesadaran sosial, tentunya setiap orang diharapkan dapat melakukan apa
yang benar secara moral, etis dan mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.
Sedangkan etika dapat dipakai dalam arti nilai yang menjadi
pegangan seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya atau lazim di
kenal dengan istilah kode etik.
2.
Budaya etika
sangat dibutuhakn dalam pola hubungan antara pemimpin dengan lembaga
pendidikannya. Hal ini merupakan dasar
dalam menentukan budaya etik. Jika dalam sebuah lembaga pendidikan akan mewujudkan
etika, terlebih dahulu pimpinan lembaga pendidikan harus melaksankan etika baik
melalui perkataan maupun perbuatan karena pimpinan lembaga pendidikan merupakan
contoh bagi bawahannya.
3.
Timbulnya
berbagai permasalahan etika dan sosial yang berkembang berkaitan dengan
pemanfaatan sistem informasi disebabkan karena kurangnya kesadaran yang
dimiliki oleh pelanggar-pelanggar etika tentang hak setiap individu terhadap
kekayaan intelektualnya dan keselamatan/hak individu.
4. Etika dalam masyarakat informasi
harus senantiasa mendapat perhatian agar masyarakat dapat waspada dan sadar
bagaimana komputer mempengaruhi mereka. Dengan memformulasikan
kebijakan-kebijakan yang memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan secara
tepat.
5. Masyarakat memiliki hak-hak tertentu
berkaitan dengan penggunaan komputer. Komputer merupakan peralatan yang begitu
penuh daya sehingga tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Masyarakat memiliki
hak atas akses komputer, keahlian komputer, spesialis komputer dan pengambilan
keputusan komputer. Dan ada empat hak
asasi masyarakat dalam hal informasi. PAPA merupakan singkatan dari Privacy (privasi),
accuracy (akurasi), property (kepemilikan), dan accessibility
(aksesbilitas

Komentar
Posting Komentar